Sejarah dan Keutamaan Al Aqsha Serta Kewajiban Melindunginya (Bag. 2)
Shalat
Di Dalamnya Bernilai Ratusan kali di
masjid lain, kecuali Masjidil Haram dan Masjid An Nabawi
Sebenarnya
ada beberapa riwayat yang berlainan berkenaan
keutamaan shalat di dalamnya, ada yang menyebut 1000 kali, 500 kali, dan
250 kali lebih utama dibanding masjid biasa.
Dari
Abu Dzar Radhiallahu Anhu, ketika kami sedang berada di sisi Rasulullah
Shallallahu Alaihi wa Sallam, kami bertanya: Lebih utama mana, shalat di masjid
Rasulullah atau di masjid Al Aqsha?”
Beliau bersabda:
صلاة في مسجدي هذا أفضل من أربع صلوات فيه
“Shalat
di masjidku ini lebih utama empat kali lipat dibanding shalat di dalam masjidil
Aqsha.” (HR. Al Hakim 4/509. Katanya: isnadnya shahih, dan disepakati oleh Adz
Dzahabi)
Ini
menunjukkan, shalat di masjid Al Aqsha adalah ¼ kali nilainya shalat di Masjid
Nabawi. Jika Masjid Nabawi bernilai 1000 kali shalat di masjid biasa, maka
nilai shalat di masjid Al Aqsha adalah 250 kali shalat di masjid biasa.
Sementara
dalam riwayat Maimunah disebutkan bahwa shalat di Masjid Al Aqsha sama dengan
1000 shalat di masjid biasa, ada pun dalam riwayat Abu Darda disebutkan 500
kali lipat. Syaikh Al Albani Rahimahullah mengatakan:
فيقال : إن الله سبحانه وتعالى جعل فضيلة الصلاة في الأقصى مائتين وخمسين صلاة أولا ثم أوصلها إلى الخمسمائة ثم إلى الألف فضلا منه تعالى على عباده ورحمة
. والله تعالى أعلم بحقيقة الحال
“Maka
disebutkan: Sesungguhnya Allah Ta’ala pada awalnya menjadikan fadhilah shalat di Al Aqsha adalah
250 kali, kemudian menaikkannya menjadi 500 kali, kemudian menjadi 1000 kali,
sebagai keutamaan dan rahmat dariNya untuk hamba-hambaNya. Allah Yang Maha
Tahu hakikat keadaannya. (Syaikh Al
Albani, Ats tsamar Al Mustathab fi Fiqhis Sunnah wal Kitab, Hal. 549. Cet. 1, Ghiras Lin Nasyr wat Tauzi)
Masjidil
Aqsha dan Sekitarnya Adalah Diberkahi
Allah
Taala berfirman:
سُبْحَانَ الذى أسرى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مّنَ المسجد الحرام إلى المسجد الاقصى الذى بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ ءاياتنا إنَّهُ هُوَ السميع البصير
“Maha
suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al
Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar
Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami.
Sesungguhnya Dia adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui. (QS. Al Isra (17):
1)
Berkata
Imam Ali Asy Syaukani Rahimahullah tentang makna telah Kami berkahi
sekelilingnya:
بالثمار والأنهار والأنبياء والصالحين ، فقد بارك الله سبحانه حول المسجد الأقصى ببركات الدنيا والآخرة
“Dengan
buah-buahan, sungai, para nabi dan shalihin, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala
telah memberikan keberkahan di sekitar masjid Al Aqsha dengan keberkahan dunia
dan akhirat. (Imam Asy Syaukani, Fathul Qadir, 4/280. Mawqi Ruh Al Islam)
Tempat
Terjadinya Peristiwa Isra
Surat
Al Isra ayat pertama di atas menunjukkan bahwa Al Aqsha bersama Masjidil
Haram- merupakan tempat terjadinya peristiwa Isra (perjalanan di malam hari). Hal ini
menunjukkan kedudukannya yang tinggi
sehingga dia dipilih sebagai tujuan dari Isra di dunia, dan titik tolak
terjadinya Miraj ke langit tujuh.
Ada
pun tentang Isra Miraj, benarkah peristiwa ini terjadi pada bulan Rajab? Atau
tepatnya 27 Rajab? Jawab: Wallahu Alam. Sebab, tidak ada kesepakatan para ulama
hadits dan para sejarawan muslim tentang kapan peristiwa ini terjadi, ada yang
menyebutnya Rajab, dikatakan Rabiul Akhir, dan dikatakan pula Ramadhan atau
Syawal. (Imam Ibnu Hajar, Fathul Bari, 7/242-243)
Imam
Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, bahwa banyak ulama yang melemahkan
pendapat bahwa peristiwa Isra terjadi pada bulan Rajab, sedangkan Ibrahim Al
Harbi dan lainnya mengatakan itu terjadi pada Rabi'ul Awal. (Ibid Hal. 95).
Beliau
juga berkata:
و قد روي:
أنه في شهر رجب حوادث عظيمة ولم يصح شيء من ذلك فروي:
أن النبي صلى الله عليه وسلم ولد في أول ليلة منه وأنه بعث في السابع والعشرين منه وقيل:
في الخامس والعشرين ولا يصح شيء من ذلك وروى بإسناد لا يصح عن القاسم بن محمد:
أن الإسراء بالنبي صلى الله عليه وسلم كان في سابع وعشرين من رجب وانكر ذلك إبراهيم الحربي وغيره
"Telah
diriwayatkan bahwa pada bulan Rajab banyak terjadi peristiwa agung dan itu
tidak ada yang shahih satu pun. Diriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu 'Alaihi wa
Sallam dilahirkan pada awal malam bulan itu, dan dia diutus pada malam 27-nya,
ada juga yang mengatakan pada malam ke-25, ini pun tak ada yang shahih.
Diriwayatkan pula dengan sanad yang tidak shahih dari Al Qasim bin Muhammad
bahwa peristiwa Isra-nya Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam terjadi pada malam
ke-27 Rajab, dan ini diingkari oleh Ibrahim Al Harbi dan lainnya."
(Lathaif Al Ma'arif Hal. 121. Mawqi' Ruh Al Islam)
Sementara,
Imam Ibnu Hajar mengutip dari Ibnu Dihyah, bahwa: Hal itu adalah dusta.”
(Tabyinul ‘Ajab hal. 6). Imam Ibnu Taimiyah juga menyatakan peristiwa Isra’
Mi’raj tidak diketahui secara pasti, baik tanggal, bulan, dan semua riwayat
tentang ini terputus dan berbeda-beda.
Kiblat
Pertama Umat Islam
Allah
Ta’ala berfirman:
سَيَقُولُ السُّفَهَاءُ مِنَ النَّاسِ مَا وَلاهُمْ عَنْ قِبْلَتِهِمُ الَّتِي كَانُوا عَلَيْهَا قُلْ لِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
(142) وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِي كُنْتَ عَلَيْهَا إِلا لِنَعْلَمَ مَنْ يَتَّبِعُ الرَّسُولَ مِمَّنْ يَنْقَلِبُ عَلَى عَقِبَيْهِ وَإِنْ كَانَتْ لَكَبِيرَةً إِلا عَلَى الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ
(143) قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُمَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ
(144)
Orang-orang
yang kurang akalnya diantara manusia
akan berkata: "Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya
(Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?" Katakanlah:
"Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa
yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus. Dan demikian (pula) Kami telah
menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi
saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas
(perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu
(sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti
Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat
berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan
Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi
Maha Penyayang kepada manusia. Sungguh
Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit , maka sungguh Kami akan
memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah
Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya.
Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat
dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah
benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka
kerjakan. (QS. Al Baqarah (2): 142-144)
Imam
Bukhari meriwayatkan bahwa Baitul Maqdis telah menjadi kiblat selama 16 atau 17
bulan lamanya. (HR. Bukhari No. 4488)
Ada
beberapa hikmah dari ayat-ayat tahwilul qiblah di atas:
1.
Ujian Keimanan dan Ketaatan untuk kaum mukminin (para
sahabat saat itu).
2.
Simbol persatuan dan kebersamaan seluruh kaum muslimin.
3.
Keseragaman arah ibadah
kaum muslimin
Imam
Ibnu Katsir Rahimahullah mengatakan:
إنما شرعنا لك
-يا محمد -التوجه أولا إلى بيت المقدس، ثم صرفناك عنها إلى الكعبة، ليظهر حالُ من يَتَّبعك ويُطيعك ويستقبل معك حيثما توجهتَ مِمَّن ينقلب على عَقبَيْه، أي:
مُرْتَدّاً عن دينه
“Sesungguhnya
syariat kami untukmu –wahai Muhammad-
pertama-tamanya adalah mengarah ke
Baitul Maqdis, kemudian merubahmu darinya kearah Kabah, untuk
menampakkan/memenangkan keadaan orang
yang mengikutimu, mentaatimu, dan berkiblat bersamamu di mana saja kamu menghadap, terhadap orang-orang yang murtad
dari agamanya. (Tafsir Al Quran Al Azhim, 1/457. Dar Lin Nasyr wat Tauzi)
Bersambung
...
Farid
Nu'man Hasan
Join
Telegram: bit.ly/1Tu7OaC
Comments
Post a Comment