Biografi Para Ulama Ahlus Sunnah: Imam Darul Hijrah, Imam Malik bin Anas Rahimahullah (Bag. 2)
4.
Guru-guru dan Murid-muridnya
Beliau
mulai menuntut ilmu di usia sepuluh tahun, dan pada usia 21 tahun sudah
memiliki majelis dan berfatwa, banyak ulama yang meriwayatkan hadits darinya
saat itu. Pada usia masih muda, banyak penuntut ilmu dari berbagai penjuru
mendatanginya pada akhir masa khalifah Abu Ja’far Al Manshur, juga setelah masa
itu, semakin berjejal manusia mengunjunginya hingga masa Khalifah Harun Ar
Rasyid, dan sampai Beliau wafat. (As Siyar, 7/154)
Beliau
berguru kepada 900 orang, seperti yang diceritakan Imam An Nawawi berikut ini:
وقال الإمام أبو القاسم عبد الملك بن زيد بن ياسين الدولقى فى كتابه الرسالة المصنفة فى بيان سبل السنة المشرفة:
أخذ مالك على تسعمائة شيخ، منهم ثلاثمائة من التابعين، وستمائة من تابيعهم ممن اختاره، وارتضى دينه، وفقهه، وقيامه بحق الرواية وشروطها، وخلصت الثقة به، وترك الرواية عن أهل دين وصلاح لا يعرفون الرواية.
وأحوال مالك، رضى الله عنه، ومناقبه كثيرة مشهورة.
Imam Abul Qasim Abdu Malik bin Zaid bin Yasin
Ad Daulaqi berkata dalam kitabnya Ar Risalah Al Mushannafah fi Bayani Subulis
Sunnah Al Musyarrafah: “Malik mengambil ilmu dari 900 orang guru, 300 dari
generasi tabi’in, dan 600 dari generasi tabi’ut tabi’in. Guru yang dipilihnya
adalah yang dia ridhai agamanya, ilmu fiqihnya, konsistensinya terhadap
syarat-syarat dalam meriwayatkan hadits, mereka bisa dipercaya dalam
meriwayatkannya, dan Malik meninggalkan riwayat orang yang punya hutang, dan
dia suka memperbaiki riwayat-riwayat yang tidak dikenal. Keadaan Imam Malik
Radhiallahu ‘Anhu dan kebaikan-kebaikannya sangat banyak dan terkenal. (Imam An
Nawawi, Tahdzibul Asma wal Lughat, 2/93)
Sebagian gurunya, seperti yang jelaskan Imam
An Nawawi:
سمع نافعًا مولى ابن عمر، ومحمد بن المنكدر، وأبا الزبير، والزهرى، وعبد الله بن دينار، وأبا حازم، وخلائق آخرين من التابعين.
Beliau
mengambil hadits dari Nafi’ –pelayan Ibnu Umar, Muhammad bin Al Munkadir, Abu
Az Zubair, Az Zuhri, Abdullah bin Dinar, Abu Hazim, dan tabi’in lainnya. (Ibid,
2/89)
Bahkan,
nama Beliau masuk dalam salah satu silsilatudz dzahab (rangkaian emas) dalam
sanad hadits, yaitu dari Malik, dari Nafi’, dari Ibnu Umar. Jika ada hadits
dengan sanad seperti ini, maka inilah sanad terbaik menurut sebagian ulama.
Berkata Imam An Nawawi Rahimahullah:
قال البخارى:
أصح الأسانيد مالك، عن نافع، عن ابن عمر.
وفى هذه المسألة خلاف، وسبق مرات، فعلى هذا المذهب قال الإمام أبو منصور التميمى:
أصحها الشافعى، عن مالك، عن نافع، عن ابن عمر، عن النبى
- صلى الله عليه وسلم
-.
Berkata
Al Bukhari: “Sanad yang paling shahih adalah Malik, dari Nafi’, dari Ibnu Umar.
Dalam masalah ini terjadi perselisihan pendapat. Penjelasan masalah ini
telah berulang-ulang, bahwa dalam
madzhab ini, berkata Imam Abu Manshur At Tamimi: “(Paling shahih adalah) Para
sahabat Syafi’i, dari Malik, dari Nafi, dari Ibnu Umar, dari Nabi Shallallahu
‘Alaihi wa Sallam.” (Ibid, 2/89)
Imam
An Nasa’i mengatakan: “Sahabat-sahabat Naafi’ yang paling kokoh ilmunya adalah
Malik, lalu Ayyub, lalu ‘Ubaidullah bin Umar, lalu Umar bin Naafi’, lalu Yahya
bin Sa’id, lalu Ibnu ‘Aun, lalu Shalih
bin Kaisan, lalu Musa bin ‘Uqbah, lalu sahabat-sahabatnya pada generasinya.
(Ibid,)
Sedangkan
murid-muridnya dan orang yang pernah mengambil riwayat darinya adalah Abdullah
bin Naafi’ Ash Shaayigh, Muhammad bin Maslamah Al Makhzumi, Al Asham, Abu Mush’ab, Yahya bin Yahya, Az
Zuhri, Al Majisyun, Sa’ad bin Abdullah Al Mu’afiri, Asyhab, Ashbagh bin Al
Faraj, Muhammad bin Al Qasim, Sahnun, Al Waqar, dan lainnya. (Selengkapnya Lihat Thabaqat Al Fuqaha, karya
Imam Abu Ishaq Asy Syirazi)
5.
Sanjungan Para Ulama Untuknya
Imam
An Nawawi berkata:
وقال الشافعى:
إذا جاء الأثر، فمالك النجم.
وقال الشافعى أيضًا:
لولا مالك وسفيان، يعنى ابن عيينة، لذهب علم الحجاز، وكان مالك إذا شك فى شىء من الحديث تركه كله.
وقال أيضًا: مالك معلمى، وعنه أخذنا العلم.
Berkata
Asy Syafi’i: “Jika datang sebuah atsar, maka Malik adalah bintangnya.” Beliau
juga berkata: “Seandainya bukan karena Malik dan Sufyan (yakni Ibnu ‘Uyainah),
maka lenyaplah ilmu di Hijaz, dahulu jika ada sesuatu yang meragukan dari hadits maka dia
tinggalkan semua.” Beliau berkata juga: “Malik adalah guruku, darinya aku
mengambil ilmu.”
Harmalah
mengatakan: “Asy Syafi’i tidak pernah mendahulukan seseorang pun di atas Malik dalam masalah hadits.”
Wahb
bin Khalid mengatakan: “Tidak ada di antara Timur dan Barat seorang laki-laki yang se-amanah Imam Malik
terhadap hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.” (Lihat semua dalam Tahdzibul Asma wal Lughat,
2/76)
Seorang
Qari kota Madinah, yakni Ibnu Katsir (bukan Ibnu Katsir pengarang tafsir yang
terkenal itu, pen), bercerita kepada Khalaf bin Umar: “Duduklah kamu wahai
Khalaf, semalam aku bermimpi seolah ada yang berkata kepadaku, Ini Nabi
Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Beliau sedang duduk, dan manusia berada di sekelilingnya, lalu
mereka bertanya kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah, berikanlah perintah
kepada kami!” Beliau menjawab: “Aku telah menyimpan harta berharga di bawah
mimbar dengan jumlah yang banyak, lalu aku perintahkan Malik untuk
membagikannya untuk kalian, maka pergilah kepadanya. Lalu manusia bubar dan
mereka satu sama lain saling berkata: “Apa yang kamu lihat dari perbuatan
Malik?” Sebagian menjawab: “Dia menjalankan perintah Nabi Shallallahu
‘Alaihi wa Sallam kepadanya.” Ketika ini
disampaikan kepada Imam Malik, maka Imam Malik berpaling dan menangis, lalu Aku
(Khalaf) meninggalkannya dalam keadaan seperti itu (menangis). (Ibid, 2/77,
lihat juga As Siyar, 7/159)
Abdurrahman
bin Al Mahdi berkata: “Imamnya manusia pada masanya ada empat; Sufyan Ats
Tsauri di Kufah, Malik di Hiiaz, Al Auza’i di Syam, dan Hammad bin Zaid di
Bashrah.” (Ibid)
Imam
Syafi’i berkata: “Jika disebut nama para ulama, maka Malik adalah bintangnya.”
Imam Sufyan bin ‘Uyainah berkata: “Malik adalah ulamanya Hijaz, dan dia adalah
hujjah pada zamannya.” (As Siyar, 7/155)
Imam
Syafi’i juga berkata:
“Tidak
ada kitab di muka bumi ini yang lebih banyak benarnya dibanding kitab Al
Muwaththa’.” Para ulama mengatakan bahwa ucapan Imam Asy Syafi’i ini ketika
sebelum adanya kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, sebab para ulama telah
sepakat keduanya adalah kitab paling shahih. (Tahdzibul Asma wal Lughat, 2/77)
6. Kehati-hatiannya dan
Rasa Hormatnya Terhadap Ilmu dan Hadits
Khalaf
bin Umar bercerita, bahwa dia pernah mendengar Imam Malik berkata: “Aku tidak
berani berfatwa sebelum bertanya dulu kepada yang lebih berilmu dariku. Apakah
engkau melihat aku pantas untuk menjawabnya? Aku bertanya kepada Rabi’ah,
kepada Yahya bin Sa’id, mereka memerintahkan aku untuk menjawabnya.” Aku
(Khalaf bin Umar) berkata: “Seandainya mereka melarang kamu?” Beliau menjawab:
“Aku cegah diriku, tidak selayaknya seseorang mengorbankan dirinya sampai dia
bertanya dulu kepada orang yang lebih paham darinya.” (Ibid, 7/159)
Ismail
bin Uwais berkata: aku bertanya kepada pamanku, Malik, tentang sebuah masalah,
Beliau berkata: “Katakanlah,” lalu dia berwudhu, lalu duduk di atas kasur, dan
berkata Laa Haula walaa quwwata illa billah, dan dia tidaklah berfatwa sampai
dia mengatakan itu.” (Ibid, 7/161)
Ini
menunjukkan kerendah hatian Imam Malik, sekaligus kehati-hatiannya dalam
berfatwa.
Abu
Salamah Al Khuza’i berkata:
كان مالك إذا أراد أن يخرج يُحَدِّث توضأ وضوءه للصلاة، ولبس أحسن ثيابه، ومشط لحيته، فقيل له فى ذلك، فقال:
أوقر به حديث رسول الله
- صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
-.
Jika
Imam Malik hendak keluar dan menyampaikan hadits, maka dia berwudhu seperti
wudhunya shalat, memakai pakaian terbaik, dan menyisir jenggotnya, lalu ada
yang bertanya tentang apa yang dilakukannya itu. Beliau menjawab: “Beginilah
aku memuliakan hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.” (Tahdzibul Asma
wal Lughat, 2/76)
Habib
Al Waraq bertanya kepada Imam Malik
tentang tiga orang laki-laki yang mana Imam Malik tidak mau meriwayatkan hadits
darinya, Imam Malik menjawab:
يا حبيب، أدركت هذا المسجد وفيه سبعون شيخًا ممن أدرك أصحاب رسول الله-
صلى الله عليه وسلم- وروى عن التابعين، ولم نحمل الحديث إلا عن أهله
Wahai
Habib, aku jumpai di masjid ini 70 orang syaikh yang pernah berjumpa dengan
para sahabat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan meriwayatkan hadits dari
tabi’in, tetapi kami tidaklah mengambil hadits kecuali dari yang memang
ahlinya. (Ibid, 2/91)
Bisyr
bin Umar Az Zahrani bertanya kepada Imam Malik tentang seorang laki-laki,
Beliau menjawab: “Apakah kau lihat orang itu dalam kitabku?” Aku jawab:
“Tidak”. Beliau berkata: “Seandainya dia tsiqah (bisa dipercaya) pastilah kau
akan melihatnya ada dalam kitabku.”
Ali
bin Al Madini berkata: “Tidaklah aku ketahui bahwa jika ada orang yang
ditinggalkan haditsnya oleh Malik,
melainkan orang itu pasti haditsnya bermasalah.” (Imam Al Mizzi, Tahdzibul Kamal,
10/6-7)
Farid Nu'man Hasan, Join Channel: bit.ly/1Tu7OaC
Comments
Post a Comment