Biografi Para Ulama Ahlus Sunnah: Imam Darul Hijrah, Imam Malik bin Anas Rahimahullah (Bag. 3) Selesai)
7.
Di Antara Perkataan dan Nasihat emasnya
Ibnu
Wahb berkata, aku mendengar Malik berkata: “Aku tahu, bahwa kerusakan besar
akan terjadi ketika manusia selalu membicarakan
apa-apa yang didengarnya.”
Mutharrif
bin Abdullah berkata, berkata Malik kepadaku: “Apa yang dibicarakan manusia
tentang aku?” Aku menjawab: “Bagi yang jujur mereka memuji, ada pun yang memusuhi itu sudah pasti terjadi.”
Beliau menjawab: “Begitulah manusia, dan selalu begitu. Kami berlindung kepada
Allah dari mengikuti omongan semua
manusia.” (Ibid, 7/161)
Dari
Ma’an dan lainnya, bahwa Malik berkata: “Jangan kalian ambil ilmu dari empat
manusia:
1. Orang bodoh yang mempertontonkan kebodohannya, walau manusia
meriwayatkan darinya. 2. Pelaku bid’ah yang menyeru kepada hawa nafsunya.
2. Orang yang suka berbohong ketika berbicara dengan manusia, walau
aku tidak menuduhnya berbohong dalam hadits.
3. Orang shalih, ahli ibadah dan punya keutamaan, tetapi tidak mau
menghafal hadits.” (Ibid, 7/162)
Berkata
Imam Malik bin Anas Radhiallahu ‘Anhu:
من ابتدع فى الإسلام بدعة يراها حسنة فقد زعم أن محمدا صلى الله عليه وسلم خان الرسالة، لأن اللّه قال: "اليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتى ورضيت لكم الإسلام دينا (المائدة: 3)
“Barangsiapa
yang berbuar bid’ah dalam Islam, dan dia memandangnya itu hasanah (baik), maka
dia telah menuduh bahwa Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah
mengkhianati risalah, karena Allah Ta’ala telah berfirman: “Hari ini telah Aku
sempurnakan untukmu agamamu, dan dan aku sempurnakan nikmaku atas kamu, dan Aku
ridha Islam sebagai agamamu.” (Fatawa Al Azhar, 10/177)
Beliau
juga berkata:
إنما أنا بشر أخطئ وأصيب فانظروا في رأيي فما وافق الكتاب والسنة فخذوه وكل ما لم يوافق الكتاب والسنة فاتركوه
“Sesungguhnya
aku hanyalah manusia biasa, bisa salah dan bisa benar, maka lihatlah
pendapatku, apa-apa yang sesuai dengan Al Quran dan As Sunnah maka ambillah,
dan setiap yang tidak sesuai maka tinggalkanlah. (Imam Al Mizzi, Tahdzibul
Kamal, 27/120)
8.
Sikap Keras Imam Malik terhadap golongan sesat
Ibnu
Wahb bercerita, kami sedang bersama Malik, lalu datang seorang laki-laki
kepadanya dan bertanya tentang firman Allah: (Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah,
Yang bersemayam di atas ‘arsy. (QS. Thaha: 5)
Laki-laki
itu bertanya tentang “bagaimana” cara Allah bersemayam? Lalu Imam Malik
terdiam, keringatnya bercucuran, lalu dia mengangkat kepalanya dan
berkata: (Yaitu) Tuhan Yang Maha
Pemurah, Yang bersemayam di atas ‘arsy. (QS. Thaha: 5), ayat ini sebagaimana
yang Allah sifatkan tentang dirinya, jangan tanyakan “bagaimana caranya”.
Tentang bagaimananya itu tidak bisa dirasiokan, dan kamu adalah laki-laki yang
buruk, pelaku bid’ah, dan keluarkan dia!”
Dalam
riwayat lain Ja’far bin Abdullah, Imam
Malik menjawab: “Bagaimana cara bersemayam tidak bisa dinalar, bersemayam
sendiri telah diketahui, mengimaninya
wajib, menanyakannya adalah bid’ah, dan aku menilai kau adalah pelaku bid’ah.”
Maka Imam Malik memerintahkannya untuk keluar.
Dalam
riwayat Salamah bin Syabib, Imam Malik berkata: “Aku khawatir kamu ini
tersesat.” (As Siyar, 7/181)
Sa’id
bin Abdul Jabbar berkata: Aku mendengar Malik berkata: “Mereka wajib diperintah
untuk bertaubat, jika tidak mau bertaubat, maka bunuhlah mereka.” Mereka adalah
golongan qadariyah. (Ibid)
Imam
Asy Syafi’i bercerita: “Jika pengikut hawa nafsu datang kepada Malik, maka dia
berkata: “Ada pun aku di atas bukti yang kuat tentang agamaku, dan kamu di atas
keragu-keraguan, maka pergilah kamu kepada orang-orang seperti kamu,” Beliau
memarahi mereka. (Ibid, 7/180)
Sikap
Imam Malik terhadap Syiah Rafidhah juga sangat keras, Beliau mengkafirkannya,
sebagaimana dikutip Imam Ibnu Katsir berikut ini, ketika membahas tafsir surat
Al Fath ayat 29:
ومن هذه الآية انتزع الإمام مالك
-رحمه الله، في رواية عنه-بتكفير الروافض الذين يبغضون الصحابة، قال:
لأنهم يغيظونهم، ومن غاظ الصحابة فهو كافر لهذه الآية.
ووافقه طائفة من العلماء على ذلك.
Dari
ayat ini, Imam Malik Rahimahullah
memutuskan –dalam sebuah riwayat darinya- tentang kafirnya golongan
rafidhah, yaitu orang-orang yang marah terhadap sahabat nabi. Beliau berkata:
“Karena mereka murka terhadap sahabat nabi, dan barang siapa yang marah
terhadap sahabat nabi maka dia kafir menurut ayat ini.” Segolongan ulama
sepakat atas fatwanya ini. (Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al Quran Al Azhim, 7/362)
Beliau
juga berkata tentang Rafidhah –qabbahahumullah fid dunya wal akhirah:
اَلَّذِيْ يَشْتُمُ أَصْحَابَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ لَهُمْ سَهْمٌ أَوْ قَالَ نَصِيْبٌ فِيْ الْإِسْلاَمِ
Orang
yang mencaci maki para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mereka sama
sekali tidak memiliki saham dalam Islam, atau sama sekali tidak memiliki bagian
dalam Islam. (Imam Abu Bakar Al Khalal, As Sunnah, 1/493)
9.
Kitab Al Muwaththa
Inilah
kitab hadits pertama dalam bentuk susunan yang begitu rapi, disusun oleh Imam
Malik selama empat puluh tahun lamanya. Beliau senantiasa mengkoreksinya setiap
empat puluh hari sekali, sebagaimana dikatakan oleh Umar bin Abdul Wahid.
Penamaan
kitab ini dengan Al Muwaththa’, karena Imam Malik telah mengkonsultasikan
riwayat yang ada di dalamnya kepada 70
ulama fiqih di Madinah, dan mereka menyetujuinya (watha’a), sejak itulah
dinamakan Al Muwaththa.’ Sebenarnya, selain Imam Malik juga ada ulama lain yang
menyusun kitab dengan judul Al Muwaththa’, seperti Al Muwaththa karya Ibnu Abi
Dzi’b, Al Muwaththa karya Ibnul Majisyun, dan lainnya.
Para
sejarawan berbeda tentang sebab awalnya kenapa Imam Malik menyusun kitab Al
Muwaththa’, ada yang berpendapat atas permintaan khalifah Al Mahdi bin Al
Manshur, ada juga yang menyebut sebagai arahan dari khalifah Ja’far bin Al
Manshur, ada yang juga menyebut ini merupakan inisiatif dirinya sendiri setelah
melihat kitabnya Ibnul Majisyun. (Muqadimah Al Muwaththa’, 1/74-77. Tahqiq:
Syaikh Muhammad Mushthafa Al A’zhami)
Para
ulama memuji kitab ini, di antaranya:
قال الشافعي: "ما في الأرض بعد كتاب الله أكثر صواباً من موطأ مالك بن أنس" ومن المعلوم، كان هذا قبل تأليف صحيح البخاري.
وقال ابن مهدي: "ما كتاب بعد كتاب الله أنفع للناس من الموطأ"
Asy
Syafi’i berkata: “Tidak ada di muka bumi ini, kitab yang lebih banyak benarnya
dibanding Muwaththa’nya Malik bin Anas.” Telah diketahui bahwa ucapan ini ada
sebelum disusunnya Shahih Al Bukhari.
Ibnul
Mahdi mengatakan: “Tidak ada kitab, setelah Al Quran, yang lebih bermanfaat
dibanding kitab Al Muwaththa’.” (Ibid, 1/121)
10.
Siksaan Yang Pernah Menimpanya
Dalam
pembahasan pasal Al Mihnah (ujian), Imam Adz Dzahabi meriwayatkan dari Muhammad
bin Jarir, katanya: “Imam Malik pernah disiksa dengan cambuk dengan rotan,
hanya saja mereka berselisih apa sebabnya.” Berkata kepadaku Al Abbas bin Al
Walid, berkata kepadaku Ibnu Dzakwan, dari Ath Thathari, katanya: bahwa Abu
Ja’far melarang Malik menyampaikan hadits: “Talak orang yang dipaksa tidaklah
sah.”
Lalu,
orang yang bertanya tentang hadits itu menambah-nambahkannya, lalu
menyebarkannya kepada kamusia, akhirnya Malik dicambuk dengan rotan. (As Siyar,
7/169)
Jadi,
ada orang yang berkhianat dan tidak amanah dalam hadits yang diriwayatkan Imam
Malik, dengan menambah-nambahkan bunyi hadits tersebut. Khalifah menyangka itu
perbuatan Imam Malik, lalu dia mencabuknya.
Sedangkan
dalam versi lain, menyebutkan bahwa penguasa tidak setuju dengan kandungan yang
ada dalam hadits tersebut, bahwa hadits tersebut menyatakan tidak sahnya cerai
orang yang terpaksa, sedangkan khalifah tidak setuju, akhirnya Imam Malik
dicambuk karena meriwayatkan hadits tersebut. Hal ini diceritakan oleh Imam
Ahmad bin Hambal. (Ibid)
Sementara
Ibnu Sa’id dan Al Waqidi memiliki versi lain, bahwa ada orang-orang yang dengki
terhadap Imam Malik, akhirnya menghasut khalifah Ja’far dengan menyampaikan
hadits tersebut, dan khalifah tidak menyukainya. Maka khalifah memanggil Imam
Malik dan berdebat, lalu Imam Malik dihukum dengan cara ditelentangkan dan
dicambuk. Justru peristiwa ini membuat nama Imam Malik semakin melambung.
(Ibid, 1/170)
Imam
Adz Dzahabi memuji Imam Malik dengan mengatakan:
هذا ثمرة المحنة المحمودة أنها ترفع العبد عند المؤمنين، وبكل حال فهي بما كسبت أيدينا، ويعفو الله عن كثير، ومن يرد الله به خيراً يصيب منه
Ini
adalah buah dari ujian yang terpuji, bahwa
ujian itu akan mengangkat derajat seorang hamba di hadapan orang-orang beriman,
dan akibat dari apa-apa yang diusahakannya, dan Allah maafkan dari banyak
hal. Barang siapa yang dikehendaki
kebaikan maka Allah akan mengujinya dengan musibah. (Ibid)
11.
Wafatnya
Al
Qa’nabi mengatakan: “Mereka mengatakan Malik wafat pada usia 89 tahun, yaitu
pada tahun 179H.” (Ibid, 7/200).
Hanya
saja para sejarawan berbeda pendapat tentang tanggal pasti wafatnya, ada yang
mengatakan pagi hari 14 Rabi’ul Awwal, 179H, seperti dikatakan Ismail bin Abi
Uwais. Sementara Mush’ab dan Ma’an bin ‘Isa mengatakan bulan Shafar. Abu Mush’ab Az Zuhri mengatakan 10 Rabi’ul
Awwal. Muhammad bin Sahnun mengatakan 11 Rabi’ul Awwal. Ibnu Wahhab mengatakan
13 Rabi’ul Awwal.
Sedangkan
Al Qadhi ‘Iyadh mengatakan bahwa yang benar adalah Rabi’ul Awwal, hari Ahad,
setelah 22 hari dia sakit. (Ibid)
Beliau
wafat karena sakit dan dalam keadaan husnul khatimah, dengan mengucapkan
syahadat di akhir hayatnya lalu membaca Al Quran. Ismail bin Abi Uwais
mengatakan: “Imam Malik wafat karena sakit, aku tanya sebagian keluargaku apa
yang dibaca oleh Malik menjelang wafatnya. Mereka menjawab, Beliau bersyahadat,
lalu membaca ayat: Bagi Allah-lah
urusan sebelum dan sesudah (mereka menang).”
(QS. Ar Ruum: 4). (Ibid)
Demikian
biografi singkat pribadi mulia, ulama besar, imamnya para imam, Imam Malik bin
Anas Radhiallahu ‘Anhu.
Wallahu
A’lam
Farid Nu'man Hasan
Join Channel: bit.ly/1Tu7OaC
Comments
Post a Comment