Sejarah dan Keutamaan Al Aqsha Serta Kewajiban Melindunginya (Bag. 1)
Definisi
Al Aqsha
Secara
bahasa (etimologis) Al Aqsha bermakna Al
Ab'ad (yang paling jauh), maksimum, atau puncak. Secara istilah (terminologis),
berkata Imam Ibnu Hajar Al Asqalani Rahimahullah:
يَعْنِي مَسْجِد بَيْت الْمَقْدِس ، وَقِيلَ لَهُ الْأَقْصَى لِبُعْدِ الْمَسَافَة بَيْنه وَبَيْن الْكَعْبَة ، وَقِيلَ لِأَنَّهُ لَمْ يَكُنْ وَرَاءَهُ مَوْضِع عِبَادَة ، وَقِيلَ لِبُعْدِهِ عَنْ الْأَقْذَار وَالْخَبَائِث ، وَالْمَقْدِس الْمُطَهَّر عَنْ ذَلِكَ
.
Yakni
masjid Baitul Maqdis, dikatakan pula baginya Al Aqsha, karena jauhnya jarak
antara dia dengan Ka'bah. Dikatakan pula, karena dibelakangnya tidak ada tempat
ibadah lainnya. Dikatakan juga, karena dia jauh dari kotoran dan kekejian, dan
Al Maqdis merupakan pensuci dari hal itu. (Fathul Bari, 6/408. Darul Fikr.
Lihat juga Imam Asy Syaukani, Fathul Qadir, 4/280. Mawqi Ruh Al Islam)
Masjid
Tertua Kedua Setelah Masjidil Haram
Abu
Dzar Radhiallahu Anhu bertanya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam:
يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ مَسْجِدٍ وُضِعَ فِي الْأَرْضِ أَوَّلَ قَالَ الْمَسْجِدُ الْحَرَامُ قَالَ قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ الْمَسْجِدُ الْأَقْصَى قُلْتُ كَمْ كَانَ بَيْنَهُمَا قَالَ أَرْبَعُونَ سَنَةً
“Wahai
Rasulullah, masjid apa yang dibangun pertama kali di muka bumi? Beliau
menjawab: Masjidil Haram. Aku (Abu Dzar) berkata: lalu apa lagi? Beliau menjawab:
Masjidi Aqsha. Aku bertanya lagi: berapa lama jarak keduanya? Beliau menjawab:
empat puluh tahun. (HR. Bukhari No. 3186, Muslim No. 520, Ibnu Majah No. 753,
Ibnu Hibban No. 1598, 6228, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 4061, Ibnu
Khuzaimah No. 787)
Yang
dimaksud di bangun dalam hadits ini adalah fondasi dari kedua masjid itu. Sebab
jika makna keduanya adalah masjid yang utuh, maka ada musykil. Berkata Imam
Ibnul Jauzi:
فيه إشكال، لأن إبراهيم بنى الكعبة وسليمان بنى بيت المقدس وبينهما أكثر من ألف سنة انتهى
“Dalam
hadits ini terdapat musykil, karena Ibrahim membangun Ka’bah dan Sulaiman
membangun Baitul Maqdis, padahal antara
keduanya terpaut jarak lebih dari seribu
tahun. Selesai. (Fathul Bari, 6/408)
Ya,
karena memang di beberapa riwayat shahih disebutkan bahwa Nabi Ibrahim
membangun Kabah dan Nabi Sulaiman yang membangun Masjidil Aqsha. Maka, hadits
di atas harus dipahami bahwa yang
dibangun saat itu adalah fondasinya.
Kemusykilan
ini dijawab oleh Imam Ibnu Al Jauzi
dengan jawaban yang memuaskan. Katanya:
وجوابه أن الإشارة إلى أول البناء ووضع أساس المسجد وليس إبراهيم أول من بنى الكعبة ولا سليمان أول من بنى بيت المقدس، فقد روينا أن أول من بنى الكعبة آدم ثم انتشر ولده في الأرض، فجائز أن يكون بعضهم قد وضع بيت المقدس ثم بنى إبراهيم الكعبة بنص القرآن
“Jawabannya
adalah bahwa isyaratnya menunjukkan yang dibangun adalah fondasinya masjid,
Ibrahim bukanlah yang pertama membangun Kabah, dan Sulaiman bukanlah yang
pertama kali membangun Baitul Maqdis. Kami telah meriwayatkan bahwa yang
pertama kali membangun Kabah adalah Adam, kemudian anak-anaknya menyebar di
muka bumi. Maka, boleh saja sebagian mereka membangun Baitul Maqdis, kemudian
Ibrahim yang membangun Ka'bah menurut Nash Al Quran. (Ibid)
Imam
Al Qurthubi Rahimahullah juga mengatakan hal yang sama:
وكذا قال القرطبي:
إن الحديث لا يدل على أن إبراهيم وسليمان لما بنيا المسجدين ابتدا وضعهما لهما، بل ذلك تجديد لما كان أسسه غيرهما.
Demikian
juga yang dikatakan oleh Al Qurthubi: sesungguhnya hadits ini tidaklah
menunjukkan bahwa Ibrahim dan Sulaiman ketika
mereka berdua membangun dua
masjid sebagai yang mengawali, tetapi mereka hanya memperbarui apa-apa yang
telah difondasikan oleh selain mereka berdua. (Ibid)
Masjid
Al Aqsha Termasuk Tiga Masjid Yang Paling Dianjurkan Untuk Dikunjungi
Dari
Abu Hurairah Radhiallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam
bersabda:
لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَمَسْجِدِ الرَّسُولِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَسْجِدِ الْأَقْصَى
“Janganlah
bertekad kuat untuk melakukan perjalanan kecuali menuju tiga masjid: Masjidil
Haram, Masjid Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan Masjidil Aqsha. (HR.
Bukhari No. 1132, 1139, Muslim No. 1338, Ibnu Majah No. 1409, 1410, Al Baihaqi
dalam As Sunan Al Kubra No. 19920)
Maksudnya
adalah berkunjung untuk berniat shalat, janganlah terlalu bertekad kecuali ke
tiga masjid ini. Ada pun sekedar, kunjungan biasa, silaturrahim, maka tentu
tidak mengapa mengunjungi selain tiga masjid ini; seperti mengunjungi orang
shalih, silaturrahim ke rumah saudara dan family, ziarah kubur, mengunjungi
ulama, mendatangi majelis ilmu, berdagang, dan perjalanan kebaikan lainnya.
Semua ini perjalanan kebaikan yang dibolehkan bahkan dianjurkan.
Berkata
Al Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah:
أن النهي مخصوص بمن نذر على نفسه الصلاة في مسجد من سائر المساجد غير الثلاثة فإنه لا يجب الوفاء به قاله ابن بطال.
“Bahwa
larangan dikhususkan bagi orang yang bernazar
atas dirinya untuk shalat di masjid selain tiga masjid ini, maka tidak
wajib memenuhi nazar tersebut, sebagaimana dikatakan Ibnu Baththal.” (Fathul
Bari, 3/65)
Imam
Al Khathabi Rahimahullah mengatakan:
وأنه لا تشد الرحال إلى مسجد من المساجد للصلاة فيه غير هذه الثلاثة؛ وأما قصد غير المساجد لزيارة صالح أو قريب أو صاحب أو طلب علم أو تجارة أو نزهة فلا يدخل في النهي، ويؤيده ما روى أحمد من طريق شهر بن حوشب قال:
سمعت أبا سعيد وذكرت عنده الصلاة في الطور فقال:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:
"لا ينبغي للمصلي أن يشد رحاله إلى مسجد تبتغى فيه الصلاة غير المسجد الحرام والمسجد الأقصى ومسجدي"
“Bahwa
sesungguhnya janganlah bertekad kuat mengadakan perjalanan menuju masjid untuk
shalat di dalamnya selain tiga masjid ini. Ada pun bermaksud selain
masjid-masjid ini untuk berziarah kepada orang shalih, kerabat, sahabat,
menuntut ilmu, berdagang, atau berwisata, maka tidaklah termasuk dalam
larangan. Hal yang menguatkan ini adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad
dari jalan Syahr bin Hausyab, dia berkata: aku mendengar Abu Said, dan aku
menyebutkan padanya tentang shalat di Ath thur, dia berkata: Rasulullah
Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: Hendaknya janganlah orang yang shalat
itu bersungguh-sungguh mengadakan perjalanan untuk shalat menuju masjid selain Masjidil Haram, Masjid Al Aqsha, dan
masjidku (Masjid nabawi). (Ibid)
Bersambung
....
Farid
Nu'man Hasan
Join Telegram:
bit.ly/1Tu7OaC
Comments
Post a Comment